Sabtu, 24 Mei 2014

Analogi BRA vs PASANGAN

Pernah ngga merhatiin, bahwa ketika membeli bra maka waktu yg diperlukan jauh lebih lama ketimbang membeli baju. Karena kita butuh bra yang benar-benar nyaman dan yang pasti menyokong bentuk payudara kita, sehingga ketika membelinya pun kita harus teliti.

Sama seperti memilih pasangan hidup, kita ngga bisa asal pilih kemudian menikah, kita perlu waktu yang cukup lama untuk merasa nyaman dan yakin bahwa dia yang kita pilih akan mampu menyokong hidup kita dan anak-anak kita. Menyokong bukan hanya dalam hal materi, tetapi menjadikan kita manusia yg lebih baik dari sebelumnya.

Pilih bra juga harus yang pas cup nya, lingkaran dadanya, jangan yang terlalu ketat.Bisa bikin sesak nafas.   Pilih dari bahan yang nyaman.Kaya gitu juga pilih pasangan. Pasangan yang posesif membuat kita sulit melangkah keluar, sulit bertemu dengan teman-teman baru, dunia baru bahkan mungkin kesempatan-kesempatan baru.

Kalo kebeneran suka bra yang pake busa, atau push up, emang sih bikin payudara kamu kelihatan lebih besar, tapi percayalah itu palsu. Jangan sampai pasangan kaget begitu kamu buka bra nya. Ini sama kaya kamu punya pasangan, kaya raya tapi ... punya orang tuanya. Palsu. Ngga bisa bekerja, pemalas dan manja. Dia akan menyokong hidup kamu sebentar, kemudian apa mampu bertahan ketika dilepas ?!

Pilih bra juga ngga usah yang bermerk dan mahal, pilih yang nyaman buat kita. Sama kaya pasangan, ngga perlu keturunan ningrat, yang penting dia baik, sayang dan setia sama kita. Pekerja keras juga dan bertanggung jawab.

Dan percaya deh, ketika melepaskan diri dari bra setelah seharian dipakai itu sama nyamannya dengan melepaskan diri dari ikatan hubungan yang menyesakan. Lega. Nyaman. Bahagia.

Nah, jadi kalo beli bra, jangan terburu-buru yaa pastikan kita nyaman memakainya, sama seperti mengambil keputusan menikah, jangan buru-buru, pastikan kita cocok dan nyaman.
 

/deasy

Rabu, 21 Mei 2014

Catatan Senior Manager

What you think is what you get

Kalo ada yang bilang jadi Senior Manager mudah ? ya memang mudah

Kalo ada yang bilang jadi Senior Manager susah ? ya memang susah

Karena apa yang kita pikirkan itu yang kita dapatkan.

Saya sudah pernah mengalami keduanya.

Saya pernah berpikir bahwa menjadi seorang senior manager di Oriflame susah.

Dan memang susah.

Susah sekali rasanya rekrut

Susah sekali rasanya membina

Susah sekali rasanya menghadapi downline yang rewel

Susah sekali rasanya mencapai 10000BP

Kemudian saya berpikir

Kalo teman-teman seangkatan saya sudah jadi senior manager dan director

Bahkan ada yang open diamond harusnya menjadi senior manager itu mudah, iya kan ?

Baiklah, menjadi senior manager itu mudah

Dan ternyata

Merekrut itu mudah

Membina downline itu menyenangkan

Ikhlas ketika menghadapi keluhan downline

Dan dan alhamdulillah mendapatkan 10000BP di bulan Maret ini  dimudahkan

***
Saya join Oriflame sudah lama

Sempat ada di posisi 12%, kemudian merosot tajam selama hampir 2 tahun.

Apa yang terjadi 2 tahun itu ?

SAYA TIDAK MENGERJAKAN ORIFLAME

Saya bergulat dengan masalah pribadi

Saya terpuruk

Saya depresi

Saya rendah diri

Saya merasa tidak berharga

dan saya merasa tidak diinginkan

Satu-satunya alasan saya masih datang ke kantor Oriflame dan ketemu teman-teman di sana adalah menjaga diri agar tetap waras, agar tidak gila.

Kesadaran yang benar-benar sadar itu datang ketika saya sadar bahwa saya sendiri sekarang, dan satu-satunya pekerjaan yang bisa saya lakukan (dan mau saya lakukan) adalah Oriflame-an

Saya ngga mungkin kerja kantoran, selain karena waktu saingannya adalah wanita-wanita muda dan fresh graduated.

Mau buka toko konvensional, saya ngga punya modal

Mau bisnis yang lain, saya ngga bakat

Kemudian saya belajar ikhlas

Berdamai dengan diri

Berdamai dengan lingkungan

Berdamai dengan keadaan

Ya sudah akhirnya saya kembali FOKUS Oriflame-an

FOKUS rekrut

FOKUS membina

FOKUS memantaskan diri

Dan inilah saya



/deasy

Senior Manager Oriflame Indonesia





Selasa, 20 Mei 2014

After 1 years



After 1 years
Better Life, Better Love and Better Me

Ngga kerasa ya, udah hampir setahun jadi single fighter untuk diri sendiri.
Mudah ? tentu saja tidak
Susah ? tidak juga
Karena  ternyata keadaan ini jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya, bertahun-tahun sebelumnya.
Perempuan mana yang bangga dengan status janda ? Ngga ada.
Saya yakin, setiap perempuan yang menghadapi proses perceraian, akan menghadapi hari-hari yang buruk, hati yang hancur berkeping, harus terlihat baik-baik saja padahal terpuruk. Dan itu melelahkan.
Sedih rasanya kalo ke mall, dan lihat satu keluarga utuh sedang jalan-jalan, tertawa bahagia dan anak-anak berlari riang.
Perih rasanya lihat pasangan yang mesra, yang menjaga satu sama lain, tapi ini kan resiko dari sebuah pilihan yang harus di hadapi, iya kan ?

Tapi ...
Air mata tidak perlu di pertontonkan
Dan kesusahan tidak perlu dipamerkan
Hidup harus berjalan, dan tidak ada waktu menyesali nasib.

Setelah satu tahun berlalu, kehidupan personal menjadi lebih baik. Ada teman-teman yang menyenangkan, ada bisnis yang menghasilkan dan ada partner yang terasa tulus mencintai.
Dan saya ? menjadi pribadi yang lebih baik
Menjadi sosok yang tidak mudah menyerah, tegar dan berprasangka baik dalam setiap hal.
Apakah saya menjadi sosok yang tidak punya masalah ? tentu tidak. Setiap bagian kehidupan selalu ada masalah, tapi saya menjadi lebih bijak menyikapinya.
Menghadapi prasangka buruk orang lain, menghadapi caci maki orang, menghadapi keadaan ketika ngga punya uang, menghadapi bisnis yang tidak selalu mulus.

Hey, tapi ini hidup kan ?
Dan hidup kita, kita yang menjalani, kita yang menghadapi, bukan orang lain dan kita yang menikmati hasilnya.
Dan kita bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri, bukan orang lain


Terima kasih Tuhan, buat hidup yang menyenangkan.Alhamdulillah